Saat ini para petani membutuhkan uluran tangan yang tidak bersifat sementara dan akhirnya justru melemahkan kekuatan mereka sendiri seperti Program pupuk bersubsidi, bantuan benih gratis dan lain sebagainya yang menyelesaikan masalah hanya untuk beberapa saat saja dan menimbulkan ketergantungan petani terhadap program seperti ini, selain secara perlahan-lahan mematikan kreatifitas dan etos kerja mereka. Sesungguhnya solusi yang paling tepat untuk mengembalikan harkat martabat petani dan meningkatkan kesejahteraannya adalah melalui penerapan sistem pertanian yang berkelanjutan secara terintegrasi (integrated sustainable farming system) dengan pola pertanian organik sebagai intinya. Melalui sistem pertanian ini petani harus bisa mandiri dalam menyelenggarakan pertaniannya dan bersinergi dengan lingkungan hidup disekitarnya. Untuk mencapai kondisi ini tentu saja diperlukan usaha keras untuk kembali 'menyadarkan' para petani agar kembali kepada 'jalan yang lurus' dengan menumbuhkan kembali etos kerja yang tinggi. Sangat perlu untuk dilakukan komunikasi yang intensif dengan para petani diantaranya melalui pelatihan untuk terus meningkatkan motivasi dan membuka cakrawala berpikir mereka.
Bila sistem pertanian yang bekelanjutan ini sudah dipraktekkan oleh mayoritas petani Indonesia maka program pupuk bersubsidi, bantuan benih gratis dan lain sebagainya menjadi tidak ada artinya untuk para petani dan pada kondisi ini yang diperlukan oleh para petani hanyalah kebebasan dalam menentukan harga hasil produksinya sesuai dengan nilai jerih payahnya. Saat ini seolah-olah sebagian besar rakyat bangsa ini menghisap keringat petani dengan mendapatkan harga beras yang tidak sepadan dengan jerih payah dan pengorbanan petani yang umumnya secara bisnis mereka tidak untung dalam mengelola sawahnya karena selama ini lebih banyak 'menggratiskan' cucuran keringatnya, sehingga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka sering meninggalkan sawahnya saat padi mulai tumbuh besar, untuk menjadi tukang beca, kuli bangunan dan lain sebagainya. Di beberapa daerah banyak dari mereka menggarap sawah karena hanya sekedar mewarisi aset dari keluarganya atau merupakan pilihan terakhir untuk dapat hidup karena tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sektor lain. Adapun orang kota yang membeli atau memiliki sawah lebih cenderung hanya untuk investasi di bidang properti saja, masih terbilang jarang yang melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Koperasi yang pendiriannya dimotori para alumni ITB Teknik Kimia'71 yang membeli sawah memang untuk berproduksi dan menerapkan sistem pertanian organik.
Alokasi untuk subsidi pupuk, bantuan benih dan sebagainya selanjutnya dapat dialihkan untuk subsidi harga beras khusus bagi masyarakat yang tidak mampu. Tentu diperlukan rambu-rambu untuk melindungi petani agar tidak berhadapan dengan para kapitalis, para pemodal besar yang akan tertarik kepada bisnis pangan utama ini bila harga beras diserahkan kepada pasar. Terlebih penting lagi untuk melindungi para petani adalah terbinanya kesolidan dan kebersamaan diantara para petani itu sendiri dengan membentuk korporasi/koperasi yang kuat dan kompak di wilayahnya masing-masing yang terbebas dari kepentingan politik.
Mungkinkah ini terwujud dan para petani mendapatkan 'harga yang layak' untuk jerih payahnya? Kalau memungkinkan, kapankah waktunya akan tiba? Memang untuk sampai ke tujuan harus dengan sekuat tenaga diperjuangkan dan kesabaran dalam melalui jalanan terjal berliku-liku.....
Salam,
Utju
0 komentar:
Posting Komentar